Letak Geografi dan Demografi Aceh

Advertisement
Jejak Pendidikan- Aceh atau secara resmi, Nangroe Aceh Darussalam adalah sebuah Daerah Istimewa yang terletak di Pulau Sumatra. Secara geografis Aceh terdiri atas 9 kabupaten, 2 kodya, 3 kotip, 142 kecamatan dan 5463 desa. Luas wilayahnya adalah 57,365.57 km per segi atau merangkumi 12.26% pulau Sumatra persegi, yang meliputi 119 pulau, 35 gunung, dan 73 sungai dengan status daerah istimewa. Aceh terletak di barat laut Sumatra. Aceh dikelilingi Selat Melaka di sebelah Utara, Provinsi Sumatera Utara di Timur dan Lautan Hindi di Selatan dan Barat. Ibukota Aceh adalah Banda Aceh yang dulunya dikenali sebagai Kutaradja. Ibukota dan bandar terbesar di Aceh ialah Banda Aceh. Bandar besar lain ialah seperti Sabang, Lhokseumawe, dan Langsa.

Aceh mempunyai lahan hutan terluas yaitu mencapai 39.615.76 km persegi, diikuti lahan perkebunan kecil seluas 3.135.22 km persegi, sedangkan lahan pertambangan mempunyai luas terkecil yaitu 4,42 km persegi. Aceh mempunyai luas perairan 56.563 km persegi yang terdiri dari laut teritorial 23.563 km persegi dan perairan laut dalam 33.000 km persegi. Di samping zona ekslusif ekonomi (ZEE) 200 mil dari pantai.

Adapun kegiatan dalam bidang perkebunan di daerah ini dapat dibagi menjadi 2, perkebunan rakyat dan perkebunan besar. Adapun perincian dari hasil perkebunan sebagai berikut: karet, minyak sawit, inti sawit, kelapa, kopi, cengkeh, pala, lada dan cokelat.

Aceh yang berada di ujung pulau Sumatera secara historis mempunyai peranan penting dalam pelayaran dan perniagaan dunia yang melalui selat Malaka, bandar-bandar Aceh menjadi sangat penting sebagai bandar penghubung yang melayani kebutuhan perbekalan seperti bahan makanan, air dan keperluan seharihari. Ini yang menghantarkan Aceh menjadi mahkota alam yang merupakan bandar penghubung dalam hal ini jalur pelayaran dagang antara Timur Tengah, Eropa, Kerajaan Demak, Brunei, dan Turki Usmani.

Aceh merupakan salah satu provinsi kaya di Indonesia. Tanahnya subur, banyak komoditas padi dihasilkan Aceh, tembakau, kelapa sawit, dan kopi. Kekayaan mineral juga banyak. Sejak lama, berbagai industri sudah dibangun di Aceh. Hasil ladang minyak dan pabrik pupuk Aceh merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Pantai-pantainya indah dan berbagai kawasan perairan laut kaya akan ikan. Di sejumlah pulau kecil di lepas pantai, banyak terdapat hutan bakau yang dikelilingi terumbu karang yang indah sehingga cocok menjadi kawasan wisata. Pulau-pulau kecil lainnya dipenuhi pohon kelapa yang buahnya banyak diperdagangkan ke berbagai wilayah lain.

Daerah Aceh mempunyai potensi dan sumber daya alam yang cukup besar, baik di bidang pertanian, perindustrian, pertambangan maupun pariwisata. Namun potensi ini belum banyak dikembangkan karena sulitnya medan dan kurangnya sarana dan prasarana lainnya.

Dalam bidang pertanian, Aceh menghasilkan cukup bahan makanan seperti beras, kedelai, ubi kayu, dan sayur-sayuran serta buah-buahan. Di samping pertanian, perkebunan dan pertambangan, usaha peternakan dan perikanan juga memegang peranan penting. Aceh mempunyai potensi yang besar, baik perikanan laut maupun perikanan darat. Wilayah Aceh juga mengandung berbagai bahan tambang, antara lain minyak bumi, gas alam, tembaga, emas, dan besi.

Jenis flora dan fauna yang terdapat di Aceh tidak banyak berbeda dengan jenis flora dan fauna di wilayah lainnya. Selain berbagai jenis tumbuhan dan binatang yang telah dibudidayakan oleh masyarakat, terdapat pula jenis dan corak tumbuhan dan binatang yang tumbuh dan hidup liar di kawasan hutan. Salah satu jenis tumbuhan yang dibudidayakan oleh masyarakat sebagai tanaman hias yaitu Bungong Jeumpa (Cempaka: Mechiale Chamcapa), telah ditetapkan sebagai maskot daerah. Kawasan hutan daerah Aceh tergolong hutan tropis. Diantara keistimewaannnya, hutan di daerah ini memiliki cukup luas tumbuhan Pinus Maskusii yang dipercaya sebagai asal pinus di seluruh Indonesia. Selain itu terdapat pula bunga Raflesia Achehensies, yang termasuk tumbuhan langka dan digolongkan bunga terbesar di dunia. Tanaman ini tersebar di hutan cagar alam Serba Jadi.

Aceh memiliki banyak potensi objek wisata yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Potensi wisata itu meliputi objek wisata alam, budaya, bahari, dan objek wisata industri. Tetapi karena keterbatasan prasarana dan sarana penunjang, maka objek-objek wisata di daerah ini belum berkembang dibanding daerah lain sehingga belum juga dapat dipasarkan dan dipromosikan ke wisatawan asing maupun domestik. Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku kaum dan bangsa.

Bentuk fisikal mereka menunjukkan ciri-ciri orang Nusantara, Cina, Eropa dan India. Leluhur orang Aceh dikatakan telah datang dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin China dan Kamboja. Kumpulan-kumpulan etnik yang terdapat di Aceh adalah orang Aceh yang terdapat di merata Aceh, orang Gayo di Aceh Tengah, sebagian Aceh Timur, Bener Meriah dan Gayo Lues, orang Alas di Aceh Tenggara, orang Tamiang di Aceh Tamiang, Aneuk Jamee di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, orang Kluet di Aceh Selatan dan orang Simeulue di Pulau Simeulue. Aceh juga mempunyai bilangan keturunan Arab yang tinggi. Sebuah suku bangsa berketurunan Eropa juga terdapat di Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Mereka beragama Islam dan dipercayai adalah dari keturunan askar-askar Portugis yang telah memeluk agama Islam. Pada umumnya, mereka mengamalkan budaya Aceh dan hanya boleh bertutur dalam bahasa Aceh dan bahasa Indonesia.

Pada tahun 1905, diperkirakan penduduk Aceh tidak lebih dari 750.000 jiwa, termasuk penduduk pulau sekitarnya. Menurut data tahun 1987 penduduk Daerah Istimewa Aceh sekitar 3,12 juta jiwa. Sebagian besar penduduk daerah ini adalah penduduk asli yang sudah sejak dahulu tinggal di daerah ini. Kepadatan penduduk di Daerah Istimewa Aceh tidak merata di setiap daerah. Sebagian besar tinggal di daerah rendah atau daerah dekat pantai. Daerah pedalaman hanya sedikit didiami.

Di pedalaman ini hanya ada satu kota kabupaten, yaitu Takengon. Sebagian besar tanah masih berupa hutan lebat atau padang ilalang. Kurangnya penduduk, luas 37 Profil Provinsi, lahannya, dan sulit komunikasi antar daerah masih menjadi halangan besar bagi pembangunan di daerah ini.38 Pada tahun 1990, Aceh baru berpenduduk 3.415.875 jiwa, dari penduduk sejumlah itu lebih dari 70%nya bermukim di pedesaan dan berusaha di sektor pertanian. Karena itu pula sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian daerah, meskipun sektor-sektor lainnya seperti industri dalam tahun terakhir ini telah pula memberi kontribusi yang cukup besar.

Mengenai pembangunan, di Aceh menganut konsep keseimbangan dalam usaha mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi dan sosial yang tinggi sekaligus meningkatkan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh anggota masyarakat di daerah ini. Pembangunan di daerah pada dasarnya merupakan seluruh kegiatan pembangunan yang berlangsung di daerah baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta (masyarakat). Pembangunan di Aceh didasarkan pada 4 trilogi pembangunan, yaitu trilogi pembangunan nasional, trilogi pemerintah daerah, trilogi keistimewaan Aceh, dan trilogi etos kerja. Mengingat Aceh masih relatif tertinggal dibanding provinsi lain di Indonesia, maka, secara operasional usaha pembangunan di daerah ini tidak memadai lagi ditempuh dengan cara-cara yang konvensional semata.


Rujukan:

  1. Riza Sihbudi et.al, Bara Dalam Sekam: Identifikasi akan Masalah dan Solusi Atas Konflik-Konflik Lokal di Aceh, Maluku, Papua, dan Riau, (Bandung: Mizan 2001),
  2. Zulkifli Husin, et,al, Keadaan Sosial Ekonomi dan Pengembangan Masyarakat Nelayan di Daerah Istimewa Aceh, (Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala dan Jakarta),
  3. Ensiklopedi Indonesia, Seri Geografi, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve 1990), cet 1.
  4. Denys Lombard, Kerajaan Aceh, (Jakarta: Balai Pustaka 1986), h. 96-9935 B. Setiawan, Ensiklopedi Nasional.
  5. Profil Provinsi Republik Indonesia Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara Bekerjasama dengan Majalah TELSTRA-Strategic Review dan PT Intermasa, 1992),

Subscribe to receive free email updates: