Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example

Advertisement
Jejak Pendidikan- Berikut penjelasan tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example


1. Model Pembelajaran Kooperatif

1.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok, terdapat unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asalasalan. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Suprijono (2009:54-55) menjelaskan pengertian pembelajaran kooperatif sebagai berikut.

Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Menurut Slavin (2009: 4), model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Heterogen disini berkaitan dengan tingkat prestasi belajar, jenis kelamin, dan latar belakang keluarga. “Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial” (Suprijono, 2009: 61).

Menurut Komalasari (2011: 62) terdapat beberapa model pembelajaran kooperatif yaitu: model Jigsaw, Berpikir berpasangan berbagi, STAD, NHT, TGT, Make A Match, Role Playing, Scramble, Inquiry dan lain-lain. Menurut Suprijono (2009: 89) pembelajaran kooperatif memiliki banyak variasi. Ada beberapa jenis model kooperatif yaitu: Jigsaw, Group Investigation, Two Stay Two Stray, Make A Match, STAD dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki banyak variasi yaitu: Jigsaw, Example non Example, Make A Match, Role Playing, Inquiry, Picture and Picture, Talking Stick, dan lain-lain.

1.2 Unsur-Unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Lie (2010: 31), untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajarankooperatif harus diterapkan:

  1. Saling ketergantungan positif. Keberhasilan suatu pembelajaran sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Semua anggota bekerja demi tercapainya satu tujuan yang sama.
  2. Tanggung jawab perseorangan. Setiap siswa harus bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik demi kelancaran pembelajaran dalam kelompok.
  3. Tatap muka. Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain. Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga dan prestasi belajar yang berbeda satu dengan yang lain. Dengan demikian terwujud sikap untuk saling menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masingmasing siswa.
  4. Komunikasi antaranggota. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengar dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
  5. Evaluasi proses kelompok. Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa unsur-unsur model pembelajaran kooperatif memiliki lima yang diterapkan yaitu:

  1. Saling ketergantungan positif;
  2. Tanggung jawab perseorangan;
  3. Tatap muka;
  4. Komunikasi antaranggota;
  5. Evaluasi proses kelompok.

1.3 Prinsip Dasar dan Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Asma (2006: 14-16) dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif setidaknya terdapat lima prinsip yang dianut, yaitu prinsip belajar siswa aktif (student active learning), belajar kerjasama (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar reaktif (reactive teaching), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Prinsip model pembelajaran kooperatif menurut Asma (2006:14-16):

  1. Belajar siswa aktif, pembelajaran berpusat pada siswa untuk belajar bersama dalam kelompok dalam memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru.
  2. Belajar kerja sama, proses pembelajaran dilakukan secara bersama untuk membangun pengetahuan melalui penemuan-penemuan sehingga pemahaman yang diperoleh lebih bernilai permanen.
  3. Pembelajaran partisipatorik, siswa belajar dengan melakukan sesuatu secara bersama-sama untuk menemukan dan membangun pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajaran.
  4. Reactive Teaching, guru menciptakan suasana pembelajaran menarik dan menyenangkan sehingga menumbuhkan motivasi belajar siswa yang tinggi.
  5. Pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dengan sikap dan perilaku guru yang ramah.

Karakteristik model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Slavin (2009: 33-34) meliputi:

  1. Penghargaan kelompok, penghargaan kelompok diperoleh kelompok dalam mencapai skor dalam kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antarpersonal yang saling mendukung, membantu dan saling peduli.
  2. Pertanggungjawaban individu, menitikberatkan pada semua aktivitas anggota kelompok secara individu yang menjadikan setiap anggota siap menghadapi tes dan tugas secara mandiri.
  3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan, semua siswa baik siswa berprestasi rendah, sedang atau tinggi memperoleh kesempatan yang sama untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah diuraikan, dapat peneliti simpulkan bahwa prinsip model pembelajaran kooperatif adalah untuk belajar bersama dalam kelompok dan bersama untuk membangun pengetahuan melalui penemuan-penemuan sehingga pemahaman yang diperoleh lebih bernilai permanen. Belajar pun menjadi suasana yang menyenangkan dengan sikap dan perilaku guru yang ramah. Sedangkan karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antarpersonal yang saling mendukung, membantu dan saling peduli dan semua siswa baik siswa berprestasi rendah, sedang atau tinggi memperoleh kesempatan yang sama untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

2 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example

2.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example
Examples non examples merupakan model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah, 2001: 73). Sementara itu, Djamarah (2006: 1) dijelaskan bahwa Examples Non Examples adalah model pembelajaran yang menggunakan contoh.

Contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.
Menurut Apriani (2010: 20) menjelaskan bahwa examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples dan non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah peneliti simpulkan bahwa examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples dan non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada.

Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

2.2 Langkah – Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example
Menurut Suprijono (2009 : 125) langkah – langkah model pembelajaran Examples Non Examples, diantaranya :

  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus pada tahap ini guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa.
  3. Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberi deskripsi tentang gambar yang diamati.
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.
  6. dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  7. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menggunakan langkah-langkah dalam membuat model pembelajaran tipe Example non Example:

  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus pada tahap ini guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa.
  3. Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberi deskripsi tentang gambar yang diamati.
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.
  6. Dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan kelompok masing-masing. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  7. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example non Example
Menurut Apriani (2010: 219) mengemukakan kelebihan Example Non Example, antara lain :

  1. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.
  2. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari example dan non example.
  3. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian example.

Menurut Buehl (Miftahul Huda, 2013: 235) kelebihan dari model tipe Example Non-Example :

  1. Peserta didik lebih kritis dalam menganalisis gambar.
  2. Peserta didik mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
  3. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Kekurangan dalam model pembelajaran examples non examples diantaranya :

  1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
  2. Memerlukan waktu yang lama.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran tipe Example non Example memiliki kelebihan yaitu:

  1. Peserta didik lebih kritis dalam menganalisis gambar,
  2. Peserta didik mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
  3. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Sedangkan kekurangan dari model Example non Example yaitu:

  1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar,
  2. Memerlukan waktu yang lama.

Subscribe to receive free email updates: